Elektromagnetika Gerak Batin
October 16th, 2005 by bodhisatvaIngin mengisi blog lagi. Maklumlah saya termasuk orang yang sentimentil sehingga mengisi blog ketika ada momen-momen tertentu atau kalau lagi dapat ilham saja. Seperti postingan kali ini, ide muncul setelah tergeletak dua hari di tempat tidur setelah diterjang badai esterogen 1 bulanan.
Aktvitas tidur saya sudah terlalu banyak mengambil jatahnya, tapi tubuh tidak bisa diajak kemana-mana akhirnya hanya bisa berbaring sambil mata kelop-kelop. Apalagi yang bisa dikerjakan selain pikiran bergerak kesana kemari. Ketimbang ngoyoworo berkembang menjadi sulur liar mending saya coba untuk merenung, meski perut masih terasa slenit-slenit. Saya pun membatin sambil merasakan kepala saya.
Ketika orang berpikir, mengatakan sesuatu dalam benaknya ada sebuah aktivitas yang terjadi. Karena saya orang jawa maka istilah batin lebih akrab ketimbang yang lain. sehingga secara subjektif buat saya aktivitas pikiran, emosi yang muncul dalam benak sesorang adalah proses membatin dan saya sendiri suka menyebutnya sebagai gerak batin
Saya teringat buku koleksi seri khazanah pengetahuan anak-anak versi Kodhama Color Zukan yang dulu diberikan bapa untuk saya dan kakak. Salah satunya berjudul Elektromagnetik dan Tenaga. Buku yang bertutur seputar hukum-hukum fisika terutama energi, gelombang, asal tenaga, dan gejala-gejala alam.
Buku ini menyeret saya dalam perjalanan pemikiran tentan sesuatu hal. Tapi sebenarnya pemicu awalnya adalah pada pesan yang selalu dituliskan bapa di lembar awal setiap buku koleksi tersebut. Termasuk untuk judul Elektromagnetika dan Tenaga. –“Anakku, Manusia memiliki getar elektromagnetis dan manusia berhubungan dengan Tuhannya melalui getar-getar tersebut, dalam sebuah doa. Love, Bapa"–. Pesan singkat yang tak terlupakan.
Bapa pergi cepat sebelum tuntas bercerita, dan saya tak sempat melontarkan banyak pertanyaan. Saya yang masih kecil tak mengerti. (Bahkan saat ini yang mencoba belajar mengerti pun masih jauh dari mengerti)
Kok bisa manusia punya getar elektromagnetis? Darimana? Apanya?. Saya memendam pertanyaan itu cukup lama dan (apakah) Tuhan memang memilik cara ajaib untuk pertanyaan-pertanyaan manusia Termasuk pertanyaan naif tersebut. Dan bisa jadi inilah hasil pemikiran yang sangat mungkin masih sangat naif.
Yang saya pahami hukum kekalan energi mengatakan jika energi tidak dapat dimusnahkan dan dihilangkan, namun ia dapat dipindahkan. Dan setiap benda memiliki energi bahkan batu yang diam sekalipun. Didalam benda diam terdapat energi yang dinamai energi potensial. Barulah ketika benda tersebut melakukan aktivitas baik aksi ataupun reaksi ia menghasilkan energi.
Sementara jika dilihat dari ilmu fisika manusia tak beda dengan sebuah benda, dan sebuah benda akan memancarkan energi. Ketika bergerak, manusia seperti halnya kendaraan mengubah energi potensial menjadi energi mekanik lalu, energi kinetis.
Tapi manusia sebagai benda yang sekaligus makhluk hidup dengan banyak kemungkinan jelas tidak sama dengan batu yang hanya memiliki energi potensial ketika diam. Diam bisa jadi tidak bergerak secara fisik, tapi tidak berarti aktivitas otak dan batinnya berhenti. Ketika manusia berpikir, merenung, membatin juga terjadi aktivitas. Lalu kemana perginya energi yang dihasilkan aktivitas tersebut. Keluar dalam bentuk apa?
Sebuah penelitian ilmiah di Amerika Serikat terhadap aktivitas otak dan hati manusia sekitar dua tiga tahun lalu mengatakan jika kedepan sangat mungkin orang mengetahui isi hati dan pikiran orang lain. Atau dalam kata lain ada mekanisme Telepati dapat ilmiahkan dan mungkin dilakukan. Proses penelitiannya tidak begitu jelas, sebab memang tidak dipaparkan detail. Apakah ini bisa menjelaskan kenapa seseorang yang memiliki hubungan dekat dapat saling merasakan keberadaan dan keadaan satu sama lain?
Ada penjelasan ilmiah lain yang bisa dijadikan pertimbangan yaitu pendekatan teori medan elektromagnetik. Dari sudut pandang yang mengikuti teori gelombang elektromagnetik, mekanisme penghantaran tenaga batin manusia dijelaskan melalui interaksi berdasarkan jarak (action at distance) yang memerlukan adanya medan (besaran fisis yang mempunyai nilai di setiap titik dalam ruang) dan gelombang sebagai perantaranya.
Faktanya, sampai saat ini belum ada hasil ilmiah yang dapat menunjukkan kebenaran ide tersebut, walaupun pendekatan dengan model ini adalah yang tertua dipikirkan manusia. Kelemahan penjelasan ini terletak pada proses rambatan gelombang elektromagnetik yang memerlukan jeda waktu, sedangkan fenomena tenaga batin dan manusia sendiri pada praktiknya tidak terbatas oleh adanya ruang dan waktu. (Memang bisa membatasi manusia mau berpikir apa, membatin apa, dimana dan kapan???)
Sebuah model yang cukup unik dinamakan Kecerdikan Jagat Raya (Universal Intelligence) berusaha mengajukan penjelasan terhadap fenomena ini. Model ini mengatakan bahwa eksistensi pikiran manusia melingkupi semua ruang dan waktu. Apa yang ingin diwujudkan dalam ruang dan waktu dapat diprogram pikiran manusia.
Dari semua model terdapat Model Holografik yang dikembangkan pakar fisika David Bohm dan pakar psikologi Karl Pribram (1971,1975,1976). Mereka menyimpulkan bahwa informasi di alam ini bukan merupakan fungsi ruang dan waktu, tetapi dalam bentuk "getaran" yang dalam ilmu Fisika diwakili dengan persamaan gelombang yang memiliki amplitudo dan frekuensi masing-masing.
Teorinya kesadaran manusialah yang melakukan "Transformasi Fourier" yaitu sebuah konsep matematika yang dapat memetakan semua proses fisik di alam dalam bentuk frekuensi dan amplitudo serta kelipatannya. Dengan Transformasi inillah manusia dapat mewujudkan informasi dari proses tersebut ke dalam ruang dan waktu.
Lebih lanjut teori ini mengatakan jika kesadaran manusia (pikiran) dapat mengambil semua getaran yang ada di alam. Kemudian melalui proses transformasi tenaga batin diri manusia, abstraksi dapat diwujudkan ke dalam ruang dan waktu.
Dengan mengikuti teori model fisika di atas, pemahaman pada mekanisme tenaga batin tidak lagi terbatas pada dimensi sebatas ruang dan waktu, melainkan juga pada dimensi yang lebih luas yang menyangkut wilayah esoterik dan dimensi kesadaran yang hanya dimiliki manusia.
Teori ini diperkuat dengan sebuah penelitian lain tentang aktivitas otak manusia. Dalam penelitian tersebut dikatakan jika bakal terdapat aktivitas otak yang berlebih di otak besar ketika manusia sedang bermeditasi atau melakukan kegiatan yang bersifat spiritual dibanding ketika manusia melakukan aktivitas berpikir biasa. Aktivitas berlimpah itu menghasilkan energi berlimpah. Bahkan letaknya dalam otak dapat ditandai. ilmuwan menamakannya dengan God spot.
Kebenaran semua teori tersebut tidak ada yang bisa mengetahuinya. Wallahualam bissawab. Jika salah gugur sudah. Tapi Jika benar luar biasa energi yang dihasilkan orang ketika melakukan gerak batin.
Lalu timbul pemikiran lain.apakah itu alasan mengapa Tuhan begitu detail mengatur hamba-hambanya, bahkan di wilayahmasih belum kasat mata sekalipun yaitu gerak batin. Dilarangnya manusia untuk berburuk sangka, dilarangnya manusia untuk berpikir munafik, dilarangnya manusia untuk memiliki sifat iri dan dengki,dendam, menyimpan amarah, dilarangnya manusia untuk berpanjang angan. Pada intinya dilarang manusia untuk melakukan gerak batin yang sia-sia sifatnya apalagi destruktif.
Bagaimana tidak, mengacu pada hukum keseimbangan alam, ketika seseorang mengeluarkan energi negatif apalagi destruktif maka yang diserang akan memberi perlawanan dalam bentuk energi positif. Jika ditelaah dari teori elektromagnetik, tenaga batin destruktif memiliki frekuensi berbanding lurus dengan energi yang diserang. Akibatnya, terjadi penguatan amplitudo yang membuat energi negatif balik ke penyerang akhirnya menyebabkan gangguan kepada yang bersangkutan. Besarnya energi balik sesuai besarnya energi yang diaktifkan. Semacam reaksi bumerang.
Jika mekanisme gerak batin sesuai dengan teori tersebut tidak heran jika orang yang selalu berpikiran negatif, prasangka buruk, memiliki kecurigaan-kecurigaan tak berdasar, tidak bersyukur, iri dan dengki, presepsi-presepsi sempit, ketidaksabaran, selalu diliputi rasa gelisah, ketidaktenangan, kecemasan, ketidakbahagiaan. tekanan, kesedihan, kesuraman. Sebuah efek energi negatif yang berbalik arah menyerang dirinya.
Meski pemikiran negatif tidak dirambatkanan pada manusia tapi dalam bentuk lain, toh ia bakal berhadapan dengan energi alam. Alam juga memiliki energi positif dan negatif. Maka ketika ia dipenuhi prasangka-prasangka dari batin yang negatif yang dihadapi lawannya yaitu energi positif alam, sehingga tetap saja energi tersebut berbalik arah menyerang dirinya.
Lalu bagaimana ketika sesorang melakukan gerak batin destruktif terhadap Tuhannya? Bukankah rasa kurang bersyukur juga berhadapan langsung dengan Energi Maha Energi? Bisa jadi itu tidak berlaku Karena pada titik semua hukum menjadi Tiada. Tapi tentu bukan tanpa alasan jika Kembali Tuhan berkata “Aku akan menjadi seperti apa yang hambaku pikirkan.”
Duh saya tergoda berpikir semakin jauh. Ketika Tuhan saja berkata seperti itu, maka bila batin manusia selalu merasa kurang maka dia pun akan selalu diberikan kekurangan. Apakah itu yang membuat manusia tidak henti-hentinya mengeluh ketika sekali saja ia membatin susah.
Bukan menuduh kesedihan manusia adalah kesalahan. Sebab kesedihan adalah bagian ekspresi. Kesedihan bukan cuma sesuatu yang dibuat-buat. Ada pula saat dimana manusia diuji dalam musibah yang menyedihkan. Bisa jadi yang diinginkan adalah bagaimana mengatur lalu lintas energi gerak batin agar tetap benar dan efektif dalam kondisi apapun.
Sebab bukankah disini letak tantangannya. Tetap mampu melihat hal-hal indah disekitar meski dalam kesedihan, sehingga mampu menjadikan hal-hal remeh temeh menjadi luar biasa bermakna. Sehingga tidak perlu lagi ada kata tidak bersyukur meski ditimpa musibah yang sangat luar bisa. Bahkan mungkin sampai tidak perlu lagi hadir pembanding kondisi orang lain untuk mengucap syukur dan merasa bahagia. Pembanding yang dalam pandangan ekstrem kawan saya di Surabaya adalah Looking for victims just for saying thanks to God. Bersyukur ya bersyukur itu saja
Lalu tentang gerak batin yang sia-sia? Tidak ada teori ilmiahnya. Tapi saya mencoba berteori sendiri. Masih menggunakan pendekatan teori elektromagnetik. Tapi sebelumnya saya akan mengambil contoh dari kehidupan nyata.
Seorang teman perempuan saya mengeluh perihal kisah cintanya. Ceritanya ia sedang didekati seorang lelaki. Menurut pengakuannya dia orang yang baik, Meski tetap saja mengurai bolongnya disana-sini ia menyadari konsep nobody prefect, yang penting masih bisa dikompromikan dan memenuhi kriteria yang ia cari.
Namun sayangnya menurut kawan saya pria tersebut agak ruwet. Rupanya tipe pendekatannya tidak jelas. Kadang iya kadang tidak. Seperti iya tapi dalam penampakannya tidak. Kawan saya tadi bingung. Saya bilang ke teman saya terus maumu seperti apa? Ngakunya dia belum cinta. Lha kok bingung? Habis dia baik jawabnya seperti itu. Padahal sebenarnya ada pilihan lain. Tapi ia bimbang Duh susah.
Sejenak saya jadi berpikir. Bukan mencari solusi buat kawan saya tapi tentang lalu lintas gerak batin yang terjadi. Inilah teori saya. Saya tidak tahu apa alasan pria tersebut kok ruwet. Yang pasti ketika gerak batin sudah dikeluarkan, meski ditutupi serapi apapun tidak mungkin bisa tersembunyikan. Energi tersebut akan mencari celah untuk keluar dan teraktualisasikan. Sehingga kemungkinan merembes pasti ada. Hasilnya keruwetan pola tadi lah yang keluar. Kadang seperti iya kadang seperti tidak.
Energi gerak batin si pria tersebut jelas tidak destruktif terhadap kawan saya. (Wong cinta kok destruktif, kalau nafsu sih iya hehehe). Namun energi elektromagnetik tetap memiliki gelombang dengan besaran amplitudo dan frekuensinya. Kalau rambatannya jelas maka arahnya jelas. Tinggal bagaimana benda lain dalam arti teman saya ini memperlakukan.
Tapi kalau tidak jelas, polanya kacau, sistemnya acak dengan rambatannya inkonsisten, maka logikanya akan mengacaukan juga kosmis medan energi yang lain. Katakanlah teman saya juga punya energi gerak batinya sendiri. Ketika ia hendak menuju atau merespon getaran gelombang lain, ia tak bisa bebas, sebab terganggu frekuensi getaran lain. Hingga timbul kebimbangan, keraguan kegamangan.
Pilhannnya adalah adalah menerobos rambatan tidak jelas tersebut jelas dibutuhkan medan energi yang lebih besar untuk mengalahkan energi tersebut sehingga timbul ketegaan dan ketegasan. atau membuat medan energi lebih luas untuk memancing getaran yang pola rambatannya inkonsisten untuk menjadi konsisten dan berkesinambungan. Artinya lebih sabar sembari berpikir taktis
Saya tidak tahu kebenaran teori yang serba asal ini. Tapi seorang bijak pernah berkata pada saya. Hanya karena seorang kawan tidak ikhlas temannya pindah, maka temannya ini tak jadi mendapat tawaran pekerjaan yang lebih bagus. Bisa jadi gerak batin yang sia-sia selain menyerap energi dan menjadikan sia-sia bagi yang bersangkutan, juga menghambat medan energi dalam kosmis orang lain.
Setelah melalui semua uraian diatas, secara subjektif saya meyakini jika manajemen gerak batin sangat diperlukan. Memperhatikan dengan detail setiap gerak batin yang terlintas. Mengurai satu-persatu sabab musabab keluar dan tujuannya. Agar tidak sampai merusak diri sendiri, apalagi menghambat orang lain.
Terlepas dari semua teori tersebut benar atau salah tiba-tiba saya jadi takut. Jika urusan gerak batin saja dibuat demikian detail belum lagi pada perbuatan yang kasat mata pastilah ada alasan. Mungkinkah ini dibuat untuk menjaga rohani setiap orang bisa terjaga bersih hingga nanti kembali pada pemiliknya. Begitukah luar biasakah yang namanya energi gerak batin ini?
Duh Gusti, saya jadi bertanya-tanya? Sudah berapa banyak gerak batin yang saya keluarkan dari mulai saat saya memiliki kesadaran hingga kini. Saya tidak tahu berapa banyak yang bermanfaat, mana yang hemat energi, efisien dan efektif dan berapa banyak yang sia-sia bahkan destruktif baik bagi diri sendiri apalagi orang lain. Duh duh duh. Jika sedemikian banyaknya yang tidak saya ketahui dengan gerak batin diri sendiri….akankah saya bisa kembali dan sampai pada MU.